Semangat Gotong Royong Warnai Kurban AFCO Group 2026 di Jombang
Semangat Gotong Royong Warnai Kurban AFCO Group 2026 di Jombang
previous arrow
next arrow
Dakwah

Meneladani Makna Bulan Muharram 1448 H di Era Digital, Momentum Hijrah Spiritual dan Moral

AssalamPedia.id – Pengasuh Ribath Darul Quran Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH. Ahmad Wahyuddin, menjelaskan bahwa bulan Muharram 1448 Hijriah bukan sekadar pergantian kalender Islam, melainkan momentum penting untuk hijrah secara spiritual, moral, dan sosial, terutama di tengah derasnya arus digitalisasi.

Menurutnya, di era digital saat ini, makna hijrah harus dimaknai lebih luas. Bukan lagi sekadar perpindahan fisik sebagaimana sejarah hijrah Rasulullah SAW, tetapi perpindahan dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari lalai menjadi sadar, serta dari konsumsi konten negatif menuju ruang digital yang lebih produktif dan bernilai ibadah.

“Bulan Muharram adalah bulan suci yang dimuliakan Allah. Ini waktu terbaik untuk muhasabah, mengevaluasi diri, lalu memperbaiki arah hidup. Di era digital, hijrah itu bisa dimulai dari apa yang kita lihat, tulis, dan bagikan di media sosial,” terang KH. Ahmad Wahyuddin, Rabu (24/6).

Menurutnya, Muharram sendiri merupakan salah satu dari empat bulan haram (bulan mulia) dalam Islam. Dalam banyak literatur keislaman, Muharram disebut sebagai Syahrullah atau bulan Allah, yang memiliki keutamaan besar untuk memperbanyak amal saleh, puasa sunnah, dan memperbaiki kualitas ibadah. Hal ini juga ditegaskan oleh sejumlah ulama dan referensi keislaman nasional.

KH. Ahmad Wahyuddin menilai, tantangan umat Islam saat ini bukan hanya persoalan akidah dan ibadah, tetapi juga bagaimana menjaga adab di ruang digital. Ia menyoroti maraknya hoaks, ujaran kebencian, fitnah, hingga budaya pamer yang semakin mudah tersebar melalui media sosial.

Mempersiapkan Masyarakat yang Mampu Menegakkan Kebenaran dan Berbuat Adil

Menurutnya, spirit Muharram harus menjadi pengingat agar umat Islam lebih berhati-hati dalam menggunakan teknologi.

“Jangan sampai tangan kita sibuk mengetik keburukan, mata kita sibuk melihat kemaksiatan, dan hati kita justru semakin jauh dari Allah. Muharram mengajarkan kita untuk reset kehidupan,” tegasnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan seruan banyak tokoh Islam di Indonesia yang menekankan bahwa Tahun Baru Hijriah harus menjadi momentum hijrah rohani dan transformasi perilaku, bukan sekadar perayaan seremonial.

KH. Ahmad Wahyuddin juga mengajak generasi muda, khususnya santri dan pelajar, agar menjadikan teknologi sebagai alat dakwah, media belajar, dan sarana memperluas manfaat bagi umat.

Ia menegaskan bahwa di tengah revolusi digital, generasi Qur’ani harus hadir membawa nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Ustadz Salim Basawad: Santri Hafidz Quran Harus Jadi Penggerak Kebangkitan Peradaban Islam

“Kalau dulu hijrah itu meninggalkan Makkah ke Madinah, hari ini hijrah bisa berarti meninggalkan konten-konten yang merusak menuju ilmu, dakwah, dan akhlak yang baik. Itu makna Muharram yang relevan untuk generasi sekarang,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Gus Yuddin berharap momentum 1 Muharram 1448 H mampu membangkitkan kesadaran umat Islam untuk lebih disiplin dalam ibadah, lebih bijak dalam bermedia, serta lebih kuat menjaga persatuan di tengah tantangan zaman.

“Dengan demikian, Muharram tidak hanya menjadi awal tahun baru Hijriah, tetapi juga menjadi titik awal lahirnya pribadi-pribadi Muslim yang lebih matang secara spiritual, intelektual, dan sosial di era digital,” ungkapnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement