AssalamPedia.id – Kadang kita merasa sudah berbuat banyak kebaikan, shalat tepat waktu, bersedekah, menolong orang lain, atau aktif dalam kegiatan dakwah.
Tapi tanpa kita sadari, semua itu bisa menjadi sia-sia jika di dalamnya terselip niat ingin dilihat dan dipuji. Inilah yang disebut riya’, dan Rasulullah ﷺ sampai menyebutnya sebagai syirik kecil yang sangat beliau khawatirkan menimpa umatnya.
Riya’ bisa membuat amal sebesar gunung runtuh menjadi debu. Sebab, Allah hanya menerima amal yang murni dilakukan karena-Nya.
Jika dalam hati kita ada keinginan agar manusia tahu, kagum, atau memuji, maka tujuan ibadah itu sudah bercampur. Amal yang seharusnya membawa kita dekat kepada Allah justru menjadi sebab kita jauh dari-Nya.
Yang membuat riya’ berbahaya adalah karena ia datang secara halus. Kadang ia menyusup saat kita merasa senang dipuji setelah bersedekah. Kadang muncul saat kita kecewa karena kebaikan kita tidak diketahui atau dianggap orang lain.
Saat itu terjadi, kita perlu segera mengingatkan diri dengan tulus: “Aku tidak melakukannya untuk manusia. Aku melakukannya untuk Allah.”
Allah telah memberi panduan yang jelas dalam firmanNya:
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia beramal saleh dan tidak mempersekutukan seorang pun dalam ibadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Allah menegaskan dalam ayat tadi, bahwa siapa saja yang berharap bertemu dengan-Nya, hendaklah beramal saleh dan tidak menyekutukan siapa pun dalam ibadahnya. Artinya, tidak ada tempat bagi niat selain untuk Allah. Semoga Allah hindarkan diri kita dari riya’.




Comment