AssalamPedia.id – Komitmen membangun spiritualitas di lingkungan kerja terus dijaga AFCO Group melalui kegiatan Ngaji rutin setiap Sabtu sore yang digelar di Masjid Hj. Sumiatun, pada Sabtu (4/7/2026).
Kajian ini menghadirkan narasumber KH. Dr. Nur Hannan,. Lc,. MH.I dengan tema “Membangun Pribadi Muslim Paripurna: Sinergi Iman, Islam, dan Ihsan dalam Bekerja.”
Dalam tausiyahnya, KH. Nur Hannan menegaskan bahwa bekerja seharusnya tidak semata-mata diniatkan untuk mencari harta, tetapi harus dilandasi niat ibadah dan tanggung jawab menafkahi keluarga.
Menurutnya, niat menjadi pembeda utama antara pekerjaan yang hanya menghasilkan materi dan pekerjaan yang mendatangkan keberkahan dunia maupun akhirat.
“Sangat disayangkan kalau bekerja hanya diniatkan untuk mencari harta. Lebih baik diniatkan sebagai ibadah dan mencari nafkah untuk keluarga. Kalau diniatkan ibadah, insyaallah yang didapat bukan hanya rezeki, tetapi juga pahala dan keberkahan,” ujarnya di hadapan jamaah.

Mantan Mudir Ma’had Aly Tebuireng itu juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kewajiban spiritual, khususnya sholat.
Ia menegaskan, sesibuk apa pun seseorang dalam bekerja, ibadah tetap harus menjadi prioritas utama.
“Jangan sampai kesibukan kerja membuat kita lalai dari sholat. Sebab keberhasilan sejati bukan hanya soal materi, tetapi bagaimana kita tetap dekat dengan Allah di tengah aktivitas dunia,” tegasnya.
KH. Nur Hannan juga memberikan apresiasi kepada AFCO Group yang dinilainya memiliki perhatian besar terhadap pembinaan keagamaan karyawan. Menurutnya, lingkungan kerja yang mendukung ibadah menjadi nilai lebih yang patut disyukuri.
“Beruntung bagi yang bekerja di AFCO Group. Di sini bukan hanya diajak bekerja mencari rezeki, tetapi juga diingatkan untuk tidak meninggalkan ibadah dan terus mengikuti kegiatan keagamaan seperti ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia mengangkat kisah Qarun sebagai pelajaran penting tentang bahaya kesombongan akibat harta. Qarun dikenal sebagai sosok yang sangat kaya raya, namun akhirnya diazab Allah karena lupa bersyukur dan menjadikan kekayaan sebagai sumber kesombongan.
“Kisah Qarun menjadi pengingat bahwa harta tanpa iman bisa menjadi sebab kebinasaan. Kekayaan bukan jaminan keselamatan jika melupakan Tuhan,” jelasnya.
Selain itu, KH. Nur Hannan juga menjelaskan tentang empat golongan manusia dalam perspektif kehidupan dunia dan akhirat.
Ia mencontohkan Nabi Sulaiman sebagai sosok yang sukses di dunia dan akhirat, Nabi Ayyub sebagai contoh orang yang diuji berat di dunia namun mulia di akhirat, serta Qarun sebagai gambaran sukses dunia tetapi gagal di akhirat.
Sedangkan golongan terakhir, menurutnya, adalah mereka yang gagal di dunia dan akhirat karena tidak memiliki arah hidup yang benar.
“Semoga nilai-nilai keislaman dapat terus tertanam dalam diri seluruh karyawan, sehingga pekerjaan tidak hanya menjadi jalan mencari nafkah, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan membangun kehidupan yang lebih berkah,” paparnya.




Comment