AssalamPedia.id – Banyak umat Islam masih memahami doa sebatas sarana untuk meminta dan menunggu terkabulnya permohonan.
Tak jarang, ketika doa tidak segera diijabah, muncul rasa kecewa, gelisah, bahkan protes dalam hati.
Padahal, para ulama menegaskan bahwa hakikat doa jauh lebih dalam daripada sekadar meminta sesuatu kepada Allah SWT.
Dalam pandangan Islam, doa merupakan wujud eksistensi seorang hamba di hadapan Tuhannya, sebuah pengakuan paling jujur bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, fakir, dan sepenuhnya bergantung kepada Allah.
Imam al-Ghazali menegaskan:“Sesungguhnya dalam doa terdapat perwujudan penghambaan dan kefakiran. Ia adalah manifestasi kebutuhan hamba kepada Tuhannya dalam setiap keadaan,” (Ihya’ Ulumuddin, Jilid I, Hal. 294).
Pernyataan ini, menurut para ulama, menjadi pengingat bahwa doa bukan tentang hasil, melainkan proses menghadirkan rasa butuh dan ketundukan kepada Sang Khalik.
Ketika seseorang tidak lagi merasa membutuhkan Allah, ia akan mencari sandaran lain, entah hawa nafsu, ego, atau angan-angan pribadinya.
Ibnu Athaillah: Doa Bukan Penyebab Allah Memberi
Bagi mereka yang mulai kehilangan makna dalam berdoa, Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam memberikan nasihat yang sangat terkenal:
“Jangan jadikan permintaanmu sebagai sebab untuk diberi oleh-Nya.”
Kalimat pendek ini mengandung pesan mendalam: doa bukanlah alat transaksi antara manusia dan Tuhan. Berdoa bukan berarti menawar atau memaksa Allah agar memenuhi keinginan hamba-Nya.
Sebaliknya, doa adalah ibadah yang mencerminkan kerendahan hati dan pengakuan bahwa manusia tak memiliki daya apa pun tanpa izin-Nya.
Doa adalah Ibadah, Bukan Sekadar Permintaan
Allah SWT berfirman:
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.” (QS Ghafir: 60)
Ayat ini menunjukkan bahwa doa merupakan bagian dari ibadah. Bahkan, orang yang enggan berdoa disebut sebagai hamba yang sombong, karena menolak mengakui ketergantungannya kepada Allah.
Dalam perspektif yang lebih luas, doa dan ikhtiar bukanlah sekadar jalan mendapatkan apa yang diinginkan. Hakikatnya, doa adalah cara seorang hamba kembali kepada Tuhannya, menyerahkan segala urusan, sekaligus menegaskan bahwa dirinya tidak berdaya tanpa pertolongan Allah.
Doa Terbaik Bukan yang Paling Cepat Dikabulkan
Para ulama sepakat bahwa doa yang paling bernilai bukanlah doa yang hasilnya cepat terlihat, tetapi doa yang membangun kesadaran spiritual: rasa tunduk, pasrah, dan bergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT.
Doa yang demikianlah yang menjadi inti dari penghambaan seorang hamba.
Tulisan penuh makna ini disampaikan oleh Shokhibul Liwa’ Adnan, alumni Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin Bogor sekaligus pengajar di PP. Bumi Shalawat Sidoarjo dan PP. Al-Hidayah Ketegan, sebagai pengingat agar umat Islam kembali memahami doa dalam makna terdalamnya. Wallahu a’lam.




Comment