AssalamPedia.id – Berbuat baik itu indah. Rasanya menyenangkan saat bisa membantu orang lain, menenangkan hati ketika melihat senyum dari seseorang yang kita tolong. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sering luput kita perhatikan: untuk siapa sebenarnya kita berbuat baik?
Kadang, tanpa sadar kita ingin dipuji, dikenal sebagai orang dermawan, atau sekadar ingin dihormati. Tidak salah ingin dihargai, tapi kalau itu menjadi tujuan utama, maka kebaikan yang kita lakukan bisa kehilangan nilainya di sisi Allah.
Padahal Allah ﷻ berfirman:
﴿إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا﴾
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanyalah untuk mengharap wajah Allah. Kami tidak menginginkan balasan dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)
Ayat ini mengajarkan kita tentang kemurnian niat. Bahwa sejatinya, tujuan tertinggi dari setiap kebaikan adalah mencari ridla-Nya, bukan tepuk tangan manusia.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ…»
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa nilai suatu kebaikan tidak terletak pada besar-kecilnya perbuatan, tapi pada niat yang tersembunyi di baliknya.
Menilai amal bukan dari banyaknya, apa pun bentuknya — memberi sedekah, menolong tetangga, mendengarkan keluh kesah teman — semua bisa jadi amal besar jika niatnya lurus.
Maka sebelum kita melangkah untuk berbuat baik, mari sejenak berkata dalam hati: “Ya Allah, saya ingin melakukan ini hanya karena-Mu, bukan karena ingin dipuji atau dianggap baik.”
Dengan niat yang ikhlash, kita tak akan kecewa kalau kebaikan tidak dibalas, atau jika orang yang kita bantu justru melupakan kita. Karena kita tahu, balasan terbaik tidak datang dari manusia, tapi dari Allah yang Maha Adil.
Kebaikan yang lahir dari hati yang ikhlash akan selalu sampai ke langit, meski tidak selalu disadari oleh bumi.
Oleh: Aminuddin bin Imam Muhayi (AIM)




Comment