AssalamPedia.id – Ketika pasangan dan anak-anak di rumah percaya sepenuhnya kepada kita, karena kejujuran yang kita bangun bertahun-tahun lamanya, maka dukungan otomatis datang dari anggota keluaga kepada kita. Ini adalah bekal untuk memulai hari-hari kita agar terasa mudah, tenang, indah, antusias dan penuh semangat, senyum merekah bahagia.
Walau macet bisa berjam-jam di jalanan, hari terik karena matahari bersinar sempurna, atau hujan yang kadang turun deras mengguyur tanpa jeda. Dengan niat yang benar, langkah kaki kita ayunkan mantap tanpa keraguan hingga sampai di tempat kerja kita.
Akibat langsung dari perasaan timbul karena kejujuran kita itu adalah ketenangan fikiran. Otak kita akan fokus dengan apa yang kita kerjakan, tidak ambyar kemana-mana, apalagi jarang sekali kita bisa multitasking, mampu berfikir dan bekerja banyak hal dalam satu waktu. Fokus ini melahirkan kualitas dan kwantitas dalam pekerjaan.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :
…إِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَة، وَالْكَذِبَ رِيْبَة…
Artinya: … Kejujuran itu ketentraman, dan dusta itu keragu-raguan …” (HR. At-Tirmidzi)
Tapi godaan untuk berbohong tidak pernah akan berhenti, karena ada setan yang selalu berusaha memalingkan hati kita untuk tidak jujur, dan nafsu kita kadang juga memperturutkannya menjadi perbuatan buruk.
Sebab-sebab yang kerap kali mendorong keinginan untuk tidak jujur adalah iming-iming keuntungan materi, target besar, status, pengakuan dan piala yang mungkin kita dapatkan ketika melakukan itu. Padahal itu adalah cara hitam yang dibenci Alloh dan berdampak buruk bagi diri dan keluarga kita.
Godaan berbohong di tempat kerja di antaranya adalah:
Pertama, Kebohongan kepada rekan kerja, bahwa kita sakit, keluarga meninggal dunia atau udzur lainya, kebohongan itu kita lakukan semata agar berkurang pekerjaan kita, atau agar bisa izin absen dengan mudah.
Kedua, titip absen karena telat, atau absen tepat waktu tetapi kita meninggalkan tempat kerja, bekerja untuk pribadi, atau mengisi waktu bukan untuk pekerjaan semestinya, seperti bermain game atau bahkan judi online, ini biasanya dilakukan karena kemalasan, keinginan untuk mereguk keuntungan lebih cepat atau takut dipotong gaji di akhir bulan.
Ketiga, berbohong dengan membuat dokumen palsu seperti nota, kwitansi atas transaksi perusahaan dengan menaikkan harga diatas harga aslinya, padahal yang bersangkutan sudah mendapatkan gaji atas pekerjaanya.
Keempat, memberikan informasi tidak sesuai dengan kenyataannya. Hal ini dilakukan semata karena mengharapkan kepentingan pribadinya, seperti fee, diskon atau potongan harga pribadi.
Kelima, memotong sebagian gaji dari bawahan. Dan godaaan kebohongan yang lainnya.
Di awal kebohongan pasti timbul perasaan takut, gemetar dan hati tidak tenang, karena khawatir orang lain akan tahu. Semua perasaan yang timbul itu adalah sinyal iman yang masih kuat dalam diri kita.
Saat kita berhenti meneruskan godaan, maka maknanya adalah menerima sinyal keimanan dari hati. Tapi jika kita memperturutkan godaan, satu, dua, tiga kali dan seterusnya, maka kepekaan hati kita akan pudar secara perlahan dan akhirnya menganggap itu hal biasa, itulah petaka yang sebenarnya bagi keimanan kita.
Akhirnya sudah semestinya kita ingat, bahwa ketika sudah terbiasa dengan ketidakjujuran itu, sebenarnya secara tidak sadar, kita sudah memantaskan diri untuk disebut sebagai seorang pembohong, -kita berlindung dari sifat itu-.
Ketika sifat itu sudah melekat erat pada kita, maka akan semakin berat mengelupasnya, sebagaimana kita dulu berat dan susah melakukannya di awal. Rasulullah bersabda:
وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
Artinya : … Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Alloh sebagai pendusta (pembohong).’” (HR. Bukhari, Muslim dan lainya)
Kita memohon kepada Alloh, agar menjauhkan diri dan keluarga kita dari sifat buruk itu, semoga rezeki yang kita dapatkan adalah hasil dari pekerjaan jujur yang kita lakukan, tanpa sedikitpun tercampur dengan kebohongan.
Oleh: Aminuddin bin Imam Muhayi (AIM)

Comment