AssalamPedia.id – Ibadah bukan sekadar rutinitas lahiriah atau gerakan ritual semata, melainkan proses transformasi spiritual yang membentuk pribadi dan masyarakat. Inilah pesan utama yang disampaikan Qaem Aulassyahied, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam ceramah bertema “Ibadah yang Berdampak” di Masjid Sudja Yogyakarta, Ahad (20/7/2025).
Dalam ceramahnya, Qaem mengajak para jamaah untuk merefleksikan kembali makna ibadah dalam Islam. Menurutnya, ibadah sejati adalah jalan menuju kemaslahatan hidup, bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tapi juga manifestasi tanggung jawab sosial.
“Ibadah yang benar itu melahirkan manusia yang bersih lahir batin, yang peduli, jujur, penuh kasih, dan siap menebar rahmat bagi semesta,” tegas Qaem di hadapan ratusan jamaah seperti dikutip di website resmi Muhammadiyah.
Ia menjelaskan, konsep syarī‘ah sebagai dasar ibadah dalam Islam bukanlah sistem yang kaku, tetapi bagaikan mata air yang mengalirkan keberkahan. Istilah “syarī‘ah” sendiri berasal dari kata syara‘a, yang berarti “jalan menuju sumber air”, sebagai simbol petunjuk hidup yang penuh kemaslahatan.
Qaem menyitir pemikiran Syekh Yusuf al-Qaradawi yang menyatakan bahwa syarī‘ah hadir bukan untuk kepentingan Tuhan, melainkan demi menjamin kebaikan dan kesejahteraan manusia. Ia berfungsi menjaga lima aspek utama kehidupan: agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.
Ibadah Tak Cukup dengan Niat Baik
Dalam bagian inti ceramahnya, Qaem menekankan bahwa ibadah harus dijalankan dengan kesadaran, cinta, dan penghayatan. Ia mengutip definisi Ibnu Taymiyyah bahwa ibadah adalah “segala bentuk penghambaan yang didasari oleh cinta dan ketundukan sepenuhnya kepada Allah.”
Ibadah tak hanya terbatas pada ritual seperti salat, puasa, dan zakat, tapi juga mencakup perbuatan sehari-hari, mulai dari bekerja, mengurus keluarga, hingga menjaga lingkungan—selama diniatkan karena Allah.
Lebih lanjut, Qaem menyampaikan lima syarat agar ibadah diterima oleh Allah:
1. Tauhid sebagai fondasi utama.
2. Dilaksanakan tanpa perantara.
3. Diniatkan dengan ikhlas.
4. Sesuai tuntunan Rasulullah.
5. Seimbang antara fisik dan spiritual.
Ia juga menyinggung kisah tiga sahabat Nabi yang ingin beribadah secara ekstrem namun justru ditegur Rasul karena melenceng dari prinsip moderasi Islam.
“Ibadah bukan pelarian dari dunia, tapi bekal untuk memperbaikinya,” ungkap Qaem.
Ṭahārah dan Dimensi Spiritual
Salah satu aspek penting yang dibahas adalah ṭahārah (bersuci). Mengutip Imam al-Ghazali, Qaem menyampaikan bahwa bersuci tidak hanya membersihkan fisik, tetapi juga hati dan jiwa. Ada empat level bersuci: dari najis, dari dosa, dari sifat tercela, hingga bersih dari ketergantungan selain kepada Allah.
“Sudahkah wudhu kita menyucikan akhlak kita? Sudahkah salat kita membentuk karakter kita?,” tanya Qaem, mengajak jamaah untuk merenung.
Ia menekankan bahwa ibadah sejati adalah ibadah yang memberi dampak: menyadarkan, membentuk akhlak, dan menjadikan manusia lebih bertanggung jawab dalam kehidupan sosialnya.
Ibadah sebagai Jalan Kebaikan Hidup
Di akhir ceramah, Qaem menegaskan bahwa syarī‘ah dan ibadah bukan beban, tapi anugerah. Jika dijalani dengan benar, keduanya menjadi jalan menuju hidup yang berkah, harmonis, dan penuh maslahat.
“Jangan jadikan ibadah hanya sebagai rutinitas. Pastikan setiap salat, wudhu, dan amal membawa kita lebih dekat kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama,” pesan Qaem, yang disambut dengan keheningan penuh hikmah.
Ceramah yang berlangsung selama lebih dari satu jam ini menorehkan kesan mendalam di kalangan jamaah. Banyak dari mereka mengaku mendapat sudut pandang baru dalam memaknai ibadah dan urgensi spiritualitas yang berdampak nyata di tengah masyarakat.

Comment