Dakwah

Harta Bukan Musuh, Jika Digunakan dengan Bijak

Caption: Ustadz Fajar Rachmadhani, Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (Foto: Facebook @fajarrachmadhani)

AssalamPedia.id — Harta, jabatan, dan kekuasaan sering kali dipandang sebagai sumber keburukan. Namun, menurut Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadhani, Islam tidak serta-merta menganggap duniawi sebagai hal tercela, selama manusia mampu mengelola dan memanfaatkannya secara proporsional.

Seperti dikutip dalam website resmi Muhammadiyah, dalam Pengajian Malam Selasa, Senin (15/7/2025). Fajar mengupas pandangan Imam Ibnu Qudamah dari kitab Mukhtasar Minhajul Qasidin. Ia menegaskan, yang menjadi masalah bukan hartanya, tetapi cara memperolehnya dan bagaimana menggunakannya.

“Harta itu amanah, bukan musuh. Tapi kalau dicari atau digunakan dengan cara yang tidak benar, di situlah letak masalahnya,” ujar Fajar di hadapan jamaah.

Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, Fajar mengingatkan bahwa kelak manusia akan ditanya dari mana hartanya diperoleh dan ke mana ia membelanjakannya.

“Tidak ada yang lebih merusak selain ketamakan terhadap harta dan kehormatan, sebagaimana diibaratkan Nabi seperti dua serigala lapar di tengah kawanan kambing,” jelasnya.

AFCO Group Gelar Halal Bihalal dan Pengajian, Ustadz Rifky Ja’far Thalib Tekankan Pentingnya Istiqomah Pasca Ramadhan

Fajar juga menyinggung sikap Umar bin Khattab yang pernah menangis karena khawatir akan fitnah kekayaan yang melimpah pada masa kekhalifahannya. Bahkan Yahya bin Mu’adz mengibaratkan harta seperti kalajengking yang beracun namun juga memiliki manfaat, tergantung bagaimana manusia mengelolanya.

Lebih lanjut, Fajar memaparkan dua kerugian terbesar manusia terkait harta saat wafat: meninggalkan semua yang telah dikumpulkan, dan tetap harus bertanggung jawab atas semuanya di akhirat.

Namun, menurutnya, Islam tetap memandang harta sebagai bagian penting dari kehidupan, selama digunakan dengan benar. “Harta itu seperti senjata bagi orang beriman. Dengan harta, kita bisa berhaji, bersedekah, membangun fasilitas umum, dan menjaga kehormatan diri serta keluarga,” terangnya.

Ia mengutip Said bin Musayyib, yang mengatakan bahwa orang yang tidak mau mencari harta secara halal demi menjaga martabat dan menyambung silaturahmi adalah orang yang merugi.

“Harta itu penopang kehidupan, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 5,” tambahnya.

WBS Boyolali Gelar Pengajian dan Buka Bersama, Perkuat Kebersamaan di Bulan Ramadhan

Fajar juga menjelaskan bahwa membelanjakan harta untuk hal-hal yang mendukung ibadah, seperti membeli pakaian salat, mushaf Al-Qur’an, atau membantu fakir miskin, termasuk bentuk ibadah itu sendiri.

“Harta yang dipergunakan untuk maslahah umum—membangun masjid, sekolah, jalan—akan menjadi amal jariyah, asalkan diniatkan ikhlas karena Allah,” tegasnya.

Mengakhiri kajian, Fajar Rachmadhani menegaskan bahwa bukan dunia yang harus dijauhi, tetapi ketamakan terhadap dunia yang harus dikendalikan.

“Harta, jabatan, dan kedudukan bisa menjadi sarana menuju akhirat, asalkan niat dan penggunaannya benar,” pungkasnya.

Sampaikan Tanda-Tanda Kiamat, Ustadz Usman Sebut 7 Golongan yang Dapat Naungan Allah SWT di Hari Kiamat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement