AssalamPedia.id – Hijrah, telah menjadi kata yang sudah terserap sempurna ke dalam bahasa kita, hingga tidak kata lain yang bisa mengantikannya, bukan hanya sekedar pindah karena secara bahasa ia bermakna pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, meninggalkan sesuatu, memutus hubungan atau lawan kata al washlu (terhubung). Sedangkan secara istilah adalah meninggalkan negeri kafir menuju negeri Islam. Atau meninggalkan apa-apa yang Alloh larang.
Dalam Al Quran bertaburan ayat-ayat tentang hijrah dan pahalanya. Karena hijrah termasuk amal besar dalam Islam. Terlebih Hijrah Nabi shallallahau alaihi wasallam dan kaum muslimin begitu fenomenal dalam pelaksanannya. Maka sangatlah tepat ketika Khalifah Umar bin al Khattab menjadikan perhitungan tahun Hijriah dimulai dari tahun hijrahnya Nabi dari Mekah menuju Madinah.
Hijrah terbagi dua jenis, yakni secara fisik atau hissi(حسي) dan maknawi. Secara fisik berarti adanya perpindahan dari negeri kafir karena sulitnya menjalankan syariat Islam menuju negeri islam, agar dapat menyemai iman dengan melaksanakan syariat Islam dengan bebas tanpa adanya ketakutan.
Sedangkan secara maknawi, berpindah dari keburukan kepada kebaikan, dari maksiyat kepada ketaatan, dari yang haram kepada yang halal atau dari kekafiran menuju islam.
Dari dua jenis ini, semuanya memungkinkan untuk dilaksanakan baik keduanya ataupun salah satunya, terutama ketika syarat-syarat tercapai atau adanya keadaan yang mengharuskan untuk hijrah. Alloh telah siapkan pahala dan keadaan yang lebih baik bagi mereka yang mau berhijrah, baik secara fisik atau secara makna.
Di antaranya banyak banyak hal baik itu adalah adalah keimanan yang meningkat, kehidupan yang lebih baik, risqi yang barokah, masyarakat yang mendukung kita secara dunia akhirat, kemudahan dalam melaksanakan kebaikan dunia dan akhirat, keamanan, ampunan, kasih sayang dan surga bagi mereka yang benar-benar hijrah baik secara fisik atau maknawi, tulus karena Alloh taála.
Termasuk di era digital ini, di mana interaksi manusia lebih banyak terjadi di dunia maya ketimbang di dunia nyata. Di akui atau tidak, manusia dewasa khususnya tidak akan sanggup melepaskan piranti penghubung ke dunia maya walau sesaat, yaitu HP dan aplikasi yang digunakan. Dunia digital lebih luas cakupannya baik secara fisik geografi atau secara nilai, di semua bidang kehidupan tidak bisa tidak, akan terhubung oleh piranti ini dengan masyarakat digital. Ini tantangannya, apakah hijrah akan juga mampu dilaksanakan di era digital ini?
Hijrah di era ini, dapat dimulia dari hal-hal yang sederhana, seperti menjaga identitas islam kita dengan menampakan “DP” yang tidak mengumbar aurat, jauh dari menampilkan penampilan dan eksplotasi fisik yang berlebihan. Demikian juga menggunakan bahasa tulis, audio dan vedio yang santun, jauh dari kesombongan, kasar, pamer dll. Selain itu beberapa hal mendasar yang harus kita ketahui adalah:
Membangun Identitas Islami:
Membangun identitas Islami yang kuat di tengah modernitas. Ini termasuk mendekatkan diri pada Al-Quran, shalat tepat waktu, dan aktif dalam kegiatan keagamaan dan kegiatan yang memiliki dampak positif bagi diri dan masyarakat.
Memanfaatkan Teknologi atau medsos untuk Kebaikan:
Teknologi, termasuk media sosial, dapat menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan kebaikan, dakwah, dan pendidikan Islam. Hijrah digital mendorong penggunaan teknologi untuk tujuan positif, bukan mengadu-domba dan membuat kegadukan dalam masyarakat.
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ, فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” [HR. Muslim]
Menjaga Diri dari Dampak Negatif:
Era digital juga menghadirkan tantangan seperti informasi yang salah, ujaran kebencian, dan gaya hidup konsumtif. Hijrah digital menekankan pentingnya menjaga diri dari dampak negatif ini dan bijak dalam menggunakan teknologi. Maka ilmu dan keimanan adalah tameng terbaik untuk melindungi diri dari dampak negatif.
Mencari Ketenangan di Tengah Kebisingan:
Dunia digital seringkali penuh dengan kebisingan dan informasi yang berlebihan. Hijrah digital mengajak untuk mencari ketenangan dan kedamaian dalam diri, dengan memperkuat hubungan dengan Alloh dan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat. Memilih informasi yang bermanfaat, dan mengabaikan yang tidak bermanfaat adalah nilai dasar lain, sebagaimana sabda nabi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi 2318, Hasan)
Demikian tulisan singkat tentang hijrah dulu dan di era digital, semoga menginspirasi kita semua, Wallahu a’lam.

Comment