Semangat Gotong Royong Warnai Kurban AFCO Group 2026 di Jombang
Semangat Gotong Royong Warnai Kurban AFCO Group 2026 di Jombang
previous arrow
next arrow
Dakwah

Gelar Khalilullah untuk Nabi Ibrahim , Kisah Keteguhan dalam Keimanan

Oleh: Ustadz M Sofyan Efendi

Pengertian Kata Khalīlā Dalam Alquran

Kata khalil (خَليْلٌ ) merupakan masdar dari kata khullah ( خُلَّة ), yang berarti “Celah” yaitu berarti ruang kosong di antara dua hal. Kata khullah dapat digunakan baik untuk muzakkar maupun muannats dan adapun bentuk jamak dari kata khullah adalah Al-Khilal yang berarti kasih sayang ataupun persahabatan.

Menurut Muhammad Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Mishbāh, kata خَليْلٌ adalah sahabat sejati yang memenuhi relung hati, yang terdapat didalamnya persahabatan dan cinta. Kata ini awalnya berarti celah, oleh sebab itu ia juga bermakna untuk seorang teman yaitu mereka yang mengetahui segala sesuatu yang ada pada temannya bukan hanya mengenal secara umum namun juga mengenali temannya secara khusus sampai kedalam rahasia yang terdapat dihatinya dan orang seperti itu tentulah selalu menemani dan mendampingi temannya itu.

Kata خَلِيْلًا didalam Al Qur’an disebut sebanyak 3 kali yaitu:
– Surat Al-Isra ayat 73
وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاتَّخَذُوكَ خَلِيلا
Artinya: “Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami, dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.” (QS. Al-Isra: 73)

Semangat Gotong Royong Warnai Kurban AFCO Group 2026 di Jombang

– Surat Al-Furqan, ayat 28-29
يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا (28) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا
Artinya: “Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 28-29).

– Surat An-Nisa ayat 125
وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْراهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْراهِيمَ خَلِيلاً (125)
Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa: 125)

Makna Khalilullah

Khalilullah artinya sangat dalam baik secara etimologis maupun terminologis. Secara etimologis, sebagaimana disebutkan diatas terkait makna kata khalil, maka dapat diartikan bahwa khalilullah adalah kekasih sejati Allah.

Secara terminologis, sesuai dengan makna asal kata khalil yang berarti celah, maka Khalilullah artinya setiap celah yang ada dalam jiwa raga Nabi Ibrahim selalu dipenuhi dengan kehadiran, kesetiaan, kepatuhan, dan ketakwaannya yang luar biasa kepada Allah SWT. Dan sebaliknya, Allah selalu tahu akan cinta sejati Nabi Ibrahim kepada-Nya, maka Allah pun selalu mencintainya. Sehingga Allah pun mengumumkan kepada seluruh makhluknya tentang kekasih sejatinya tersebut.

Menebar Kebaikan di Bulan Dzulhijjah, Sedekah AFCO Group Hadirkan Kebahagiaan untuk Warga Jombang

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 125
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللّٰهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
Artinya: “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 25)

Ayat tersebut menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim adalah contoh utama seorang yang tunduk patuh dan sepenuh hati kepada Allah. Ia adalah sosok yang mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus, yang merupakan agama tauhid dan ketundukan total kepada Allah.

Dengan demikian, gelar Khalilullah artinya bukan sekadar sebutan, tetapi juga mencerminkan penghargaan dan keistimewaan Nabi Ibrahim di mata Allah. Ia adalah kesayangan Allah karena keimanan, ketabahan, dan kepatuhannya yang luar biasa. Nabi Ibrahim menjadi panutan dan teladan bagi umat Muslim, mengajarkan makna sejati dari ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Alasan Nabi Ibrahim Diberi Gelar Khalilullah

Dalam kitab Nashoihul Ibad, diterangkan bahwa ketika Nabi Ibrahim ditanya tentang mengapa beliau mendapatkan gelar Khalilullah, beliau menjawab ada tiga sebab. Berikut adalah ketiga sebab tersebut:

Dzulhijjah Tinggal 5 Hari Lagi: Saatnya Menyambut Hari-Hari Penuh Keberkahan

قيل لابراهيم عليه السلام: لاي شيئ اتخذك الله خليلا. قال بثلاثة اشياء: اخترت امرالله على امر غيره و مااهتممت بما تكفل الله لي وما تعيشت وما تغديت الا مع الضيف

Artinya: “Nabi Ibrahim ditanya, apa sebabnya engkau di angkat menjadi kekasih (Kholil) Allah. Beliau menjawab, karena tiga hal: (1) Aku selalu mendahulukan urusan Allah daripada urusan yang lainnya. (2) Aku tidak pernah ragu tentang segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab Allah SWT. (3) Aku tidak pernah makan (baik makan malam maupun makan pagi) kecuali bersama dengan tamu.”

Pertama, Nabi Ibrahim selalu mendahulukan urusan Allah daripada urusan yang lainnya. Layaknya kepada seorang kekasih, Nabi Ibrahim selalu mendahulukan kepentingan Allah daripada yang lain. Hal ini tercermin ketika Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash-Shafat: 102)

Sebelum kelahiran Ismail, Nabi Ibrahim sangat mendambakan seorang anak. Namun hingga berpuluh-puluh tahun beliau belum dikaruniai anak. Pada akhirnya beliau meminta izin kepada istrinya, Sarah, untuk menikah kedua kalinya dengan Hajar.

Dari pernikahan ini lahirlah Nabi Ismail. Hingga saat menginjak masa remaja, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya itu. Tanpa pikir panjang, beliau menjalankan perintah Allah. Dengan kuasa Allah, Nabi Ismail diselamatkan Allah dan diganti dengan domba.

Ketika Nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk khitan, beliau langsung memotong kulup-nya sendiri dengan kapak. Beliau tidak menggunakan pisau atau alat tajam lainnya padahal beliau memilikinya. Beliau mengatakan, “Ketika perintah itu datang, yang ada di dekatku hanyalah kapak. Maka aku langsung memakainya untuk sunat. Ketika aku mencari-cari alat yang lain, aku khawatir akan digolongkan ke dalam orang-orang yang suka menunda perintah-Nya.”

Kedua, Nabi Ibrahim tidak pernah ragu tentang segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab Allah SWT. Ketika Siti Hajar melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail, Sarah pun diliputi rasa cemburu itu. Ia pun berjanji tidak akan mau tinggal dengan Hajar dan anaknya dalam satu atap.

Imam al Tsa’labi (ahli tafsir, 350-430 H) meriwayatkan, pada waktu itu datanglah perintah dari Allah SWT kepada Nabi Ibrahim agar membawa Siti Hajar dan bayinya (Ismail) ke tanah Makkah. Maka, mereka pun berangkat untuk menempuhperjalanan jauh. Ibrahim dan istrinya bergantian menggendong bayi yang baru lahir hingga tiba di tanah Makkah.

Pada waktu itu Makkah sangat tandus. Tak ada pohon, tidak ada air, dan sepi dari manusia. Saat itu mereka melihat ada bukit berwarna merah, di atasnya terdapat bekas rumah tua dari dahan-dahan kayu yang sudah mengering. Juga ada bekas kantong air penampung hujan. Di sanalah, seperti diriwayatkan dua sejarawan terkenal, al Thabari (838-923 M) dan Ibnu al Atsir (1160-1233 M), Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar dan bayinya Ismail.

Siti Hajar pun merengek sambil menangis agar suaminya tidak meninggalkan dia dan bayinya di tempat sepi dan menyeramkan itu. Namun, Nabi Ibrahim tak peduli. ‘’Kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di padang pasir yang tidak ada manusia dan bahkan kehidupan ini? Apakah Allah yang memerintahkan kamu wahai suamiku?’’Siti Hajar bertanya kepada suaminya. Tanpa menengok lagi kepada istrinya, Nabi Ibrahim pun menjawab singkat, ‘’Iya!’’

Akhirnya, tak ada lain yang bisa diperbuat Siti Hajar, ia pun berkata lirih penuh penyerahan diri kepada Allah SWT, ‘’Kalau begitu, Tuhan pasti tidak akan membiarkan kami.’’ Siti Hajar tampaknya yakin betul dengan janji Allah SWT. Dan, dalam diam, tanpa melihat lagi suaminya, ia pun menengadahkan wajahnya ke langit dan berdoa.

Begitu juga Nabi Ibrahim pun berdo’a kepada Allah sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an:

رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Nabi Ibrahim adalah seorang yang kaya raya pada zamannya. Konon, beliau mempunyai 12.000 binatang ternak. Namun kekayaanya itu tidak membuat beliau lupa kepada Allah SWT.

Suatu ketika, malaikat Jibril diperintah Allah untuk menguji ketaatan Nabi Ibrahim. Jibril menyamar sebagai seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Ibrahim. Jibril berkata, “Wahai tuan, saya sangat membutuhkan harta untuk memenuhi hidup saya.”

Nabi Ibrahim lalu menjawab, “Silahkan ambil satu atau dua dari hewan ternak yang kumiliki.”
Jibril malah meminta tambahan,”Tapi itu masih belum cukup, Tuan.” Nabi Ibrahim menjawab, “Ambillah sepertiga yang kumiliki.”

Jibril masih menguji keteguhan Nabi Ibrahim, “Itu juga belum cukup, Tuan.” Nabi Ibrahim pun dengan santai menjawab Ambillah semua ternak yang kumiliki.” Malaikat Jibril yang kagum akan sifat Nabi Ibrahim ini akhirnya mengaku bahwa ia adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menguji Nabi Ibrahim.

Ketiga, Nabi Ibrahim tidak pernah makan (baik makan malam maupun makan pagi) kecuali bersama dengan tamu. Beliau rela berjalan satu hingga dua mil untuk mencari tamu agar dapat makan bersamanya. Hal ini membuat beliau diberi julukan “Abu ad-Duyuf” atau bapaknya para tamu.

Suatu ketika Nabi Ibrahim memohon kepada Allah, “Wahai tuhanku, aku ingin sekali menjadikan umat Muhammad sebagai tamuku hingga hari kiamat.” Allah SWT menjawab, “Engkau tidak bisa wahai Ibrahim.”

Nabi Ibrahim tidak berputus asa dan tetap memohon, “Tuhanku, engkau tau keadaanku dan engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Maka kabulkanlah permintaanku wahai Tuhanku.”

Allah SWT akhirnya mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim disuruh untuk mengambil kapur dari surga dan membawanya ke atas gunung Qubais. Di atas gunung tersebut, Nabi Ibrahim meniup kapur surga itu. Setiap tempat yang menjadi jatuhnya kapur tersebut akan menjadi garam. Sehingga garam yang kita nikmati hingga sekarang ini adalah buah permohonan Nabi Ibrahim kepada Allah untuk menjamu umat Nabi Muhammad SAW.

Itulah tiga keteladanan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim AS. Ketiga hal tersebut membuat beliau diangkat dan diberi gelar sebagai Kholilulloh. Kita sebagai umat Muhammad setidaknya dapat meniru sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim tersebut.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement