AssalamPedia.id – Diceritakan bahwa pada masa Malik bin Dinar, ada dua orang majusi yang menyembah api. Lalu sang adik berkata kepada kakaknya, “Hai kak! Kamu sudah menyembah api ini selama tujuh puluh tiga tahun, se-dangkan saya sudah menyembahnya selama tiga puluh lima tahun. Sekarang ke sinilah, untuk melihat apakah api itu masih membakar kita sebagaimana ia membakar selain kita yang tidak menyembahnya? Kalau ia tidak membakar kita, kita akan terus menyembahnya, tapi ka-lau ia masih membakar kita, kita tidak lagi menyembah-nya.”
Lalu mereka menyalakan api. Kemudian sang adik berkata kepada kakaknya, “Apakah kamu meletakkan tanganmu sebelum saya, ataukah saya sebelum kamu?” Kakaknya menjawab, “Letakkan tanganmu!” Lalu sang adik meletakkan tangannya dan api itu membakar jari-jarinya lalu dia mencabutnya dan berkata, “Aduh! Saya sudah menyembahmu şekian tahun, tapi kamu masih menyakitiku.”
Kemudian dia berkata kepada kakaknya, “Kak! Mari kita menyembah Dzat yang jikalau kita ber-dosa dan kita biarkan selama lima ratus tahun, niscaya dia akan mengampuni kita dengan berbakti selama satu jam saja dan satu kali permohonan ampunan.” Lalu ka-kaknya menyetujui usul itu dan berkata, “Ayo kita per-gi kepada orang yang dapat menunjukkan kita ke jalan yang lurus!” Lalu mereka bersepakat pergi ke Malik bin Dinar.
Lalu mereka pergi kepadanya dan bertemu dengannya di daerah sekitar Basrah sedang memberi pengajian kepada orang-orang yang beliau hormati. Ketika mereka melihatnya, sang kakak berkata kepada adiknya, “Sungguh jelas, saya tidak akan masuk Islam. Karena sebagian besar hidupku ini, saya gunakan menyembah api. Jika saya masuk Islam, keluargaku di rumah akan mengejekku. Dan saya lebih senang api daripada mereka mengejekku.” Lalu adiknya berkata, “Jangan lakukan itu! Karena ejekan mereka suatu saat akan hilang, tapi api se-lamanya tidak akan hilang.” Sang kakak itu tidak meng-hiraukan perkataan adiknya. Lalu dia berkata kepada adiknya, “Terserah kamu! Apa yang kamu inginkan, hai sang celaka? Lalu sang kakak pulang dan adiknya datang ke Malik bin Dinar dengan mengajak anak-anak dan isterinya dan duduk di samping beliau sampai sele-sai pengajian.
Lalu dia berdiri mendekatinya, menceritakan cerita itu dan meminta agar beliau menunjukkan tentang Islam kepadanya, anak-anak dan isterinya. Lalu beliau menunjukkan Islam kepada mereka dan mereka masuk Islam. Kemudian pemuda itu ingin pulang ber-sama-sama keluarganya. Lalu Malik bin Dinar berkata kepadanya, “Sebentar! Saya ambilkan dulu sesuatu dari sahabat-sahabatku.” Dia menjawab, “Saya tidak ingin sesuatu.” Kemudian dia pulang dan masuk ke tempat sunyi lalu dia menemukan rumah yang dihuni orang dan dia singgah di situ.
Ketika pagi hari, isterinya berkata, “Per-gilah ke pasar, carilah pekerjaan dan belikan makanan untuk kita dari upah itu.” Lalu dia pergi ke pasar, tapi tak seorang pun menyuruhnya bekerja. Lalu dia berkata dalam hatinya, “Saya bekerja untuk Allah SWT.” Lalu dia masuk ke tempat sunyi yang lain dan shalat hingga maghrib. Kemudian dia pulang ke rumahnya dengan tangan kosong. Lalu isterinya bertanya, “Apakah kamu tidak membawakan kami sesuatu?” Lalu dia menjawab, “Saya telah bekerja untuk raja pada hari ini, tapi saya masih belum diberi sesuatu, dan dia berkata, ‘Saya beri-kan kepadamu besok.” Maka mereka tidur semalam dalam keadaan lapar.
Ketika pagi harinya, dia pergi lagi ke pasar, tapi dia belum mendapatkan pekerjaan. Lalu dia melakukan seperti yang dia lakukan kemarin dan pulang ke isterinya dengan tangan kosong, dan berkata kepada isterinya, “Raja berjanji kepadaku pada hari Jumat.” Ke-tika pagi hari Jumat, dia pergi ke pasar, tapi dia belum mendapatkan pekerjaan. Lalu dia melakukan seperti yang dia lakukan sebelumnya.
Ketika sore hari, dia shalat dua rakaat dan mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berdoa, “Wahai Tuhanku! Sungguh Engkau telah memuliakanku dengan Islam dan memakaikan kepada ku dengan mahkota petunjuk. Oleh karena itu, dengan mulianya agama ini dan dengan mulianya hari yang penuh berkah ini, angkatlah nafkah keluargaku dari hatiku, karena saya merasa malu dengan mereka dan mera-sa khawatir akan berubahnya keadaannya karena baru saja masuk Islam.”
Keesokan harinya dan ketika waktu dhuhur sudah tiba, dia pergi ke masjid, sedangkan anak-anaknya dalam keadaan kelaparan, datanglah seseorang ke rumahnya dan mengetuk pintu. Lalu isterinya keluar, ternyata ada seorang pemuda tampan yang membawa satu talam emas dengan dibungkus sapu tangan emas. Lalu pemuda tadi berkata, “Ambillah ini dan berkatalah kepada suamimu, ‘Ini upah bekerjamu selama dua hari, dan jika engkau menambah, saya akan menambah pula.” Lalu isterinya mengambil talam itu, ternyata di dalamnya ada seribu dinar.
Lalu dia mengambil satu dinar dan pergi ke tukang tukar uang. Tukang tukar uang itu beragama Nasrani. Lalu dia menimbang dinar itu dan beratnya melebihi tiga mitsqal. Lalu dia melihat ukirannya, ternyata dinar itu merupakan hadiah akhirat. Lalu dia bertanya, “Dari mana dan di mana engkau menemukan dinar in?” Lalu isterinya tadi menceritakan cerita itu. Lalu dia berkata, “Tunjukkan kepadaku tentang Islam!” Akhirnya, dia masuk Islam dan memberi seribu dirham kepadanya lalu berkata, “Gunakan ini, dan jika habis, be-ritahu saya!” Lalu dia mengambilnya dan memasak ma-kanan yang lezat.
Setelah suaminya shalat maghrib dan bermaksud pulang ke rumahnya dengan tangan kosong, dia menggelar sapu tangan; shalat dua rakaat; mengisi sapu tangan itu dengan debu; dan berkata dalam hatinya, “Jika isteriku nanti bertanya kepadaku, aku akan menja-wabnya, ‘Ini tepung hasil bekerjaku.” Kemudian dia pu-lang ke rumahnya.
Ketika dia masuk ke rumahnya, dia melihat rumahnya sudah digelari tikar, makanan sudah disiapkan dan makanan sudah terbau olehnya. Lalu dia meletakkan sapu tangan itu di samping pintu agar isteri-nya tidak dapat melihatnya. Kemudian dia bertanya ke-pada isterinya tentang keadaannya dan tentang yang dia lihat di rumahnya. Lalu isterinya menceritakan cerita itu kepadanya. Lalu dia bersujud syukur kepada Allah SWT. Lalu isterinya bertanya kepadanya tentang yang dia bawa di sapu tangan itu. Lalu dia menjawabnya, “Jangan berta-nya tentang itu!” Kemudian dia mengambil sapu tangan itu untuk membuang debu yang ada di dalamnya. Lalu dia membukanya, ternyata dia melihat tepung. Lalu dia bersujud syukur yang kedua kepada Allah Azza wa Jalla atas kemuliaan yang Allah berikan kepadanya. Akhirnya dia senantiasa berbakti kepada Allah SWT sampai akhir hayatnya.
Diambil dari kitab (Mutiara Hikmah Tasawuf, Terjemah Kitab An-Nawadir)




Comment